Tuberculosis (TB) di paru-paru

Liburan_Yosafat_Tuberculosis: Musuh Lama yang Belum juga Dikalahkan

Tuberculosis (TB) di paru-paru

Akankah ada harapan untuk memberantas Tuberculosis di Indonesia?”

Tuberculosis (TB) merupakan penyakit respirasi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, dan Indonesia merupakan negara ketiga dengan jumlah kasus TB yang paling tinggi setelah India dan China.

Pada tahun 2017, Indonesia dinyatakan sebagai negara yang memiliki beban tinggi pada TB, bakteri dengan resistensi terhadap beberapa obat (Multidrug resistance / MDR), dan HIV (Human Immunoeficiency Virus) dan terdapat 420.994 kasus baru di Indonesia, sedangkan pada tahun 2020 diperkirakan terdapat 845.000 kasus TB dengan pengobatan yang berhasil sebanyak 85%. Selain itu, angka notifikasi TB juga masih bersifat fluktuatif dengan nilai yang cenderung meningkat. Demikian juga dengan kasus TB-HIV yang diakibatkan oleh melemahnya sistem imun sehingga bakteri Mycobacterium tuberculosis dapat menyerang paru-paru tanpa perlawanan sistem imun yang adekuat. Prevalensi TB juga meningkat berdasarkan umur dan sebagian besar penyakit TB diderita oleh pria. Penyakit TB ini bukanlah merupakan penyakit yang baru, melainkan sudah lama berada di Indonesia.

TB sendiri menjadi sebuah permasalahan yang cukup signifikan dalam kesehatan Indonesia karena TB disebabkan oleh berbagai faktor risiko yang umum dimiliki di lingkungan Indonesia, terutama lingkungan masyarakat yang berada pada tingkat ekonomi menengah ke bawah dimana terdapat lingkungan yang kurang higienis, kurang memiliki pengetahuan tentang kesehatan, obesitas, malnutrisi, kepadatan hunian, kontak dengan penderita, dan juga pengguna rokok berat. Karena perilaku tersebut cukup banyak mucul di Indonesia atau negara berkembang lainnya, pencegahan dan perubahan perilaku hidup sehat yang signifikan diperlukan. TB juga menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan karena TB munculnya varian bakteri yang memiliki sifat MDR sehingga tahan terhadap berbagai varian obat dan memerlukan perawatan yang spesifik dengan kebutuhan pasien dan gejala yang muncul (patient specific care), selain itu juga ada TB yang diakibatkan oleh HIV juga yang disebabkan oleh lemahnya imunitas, yang berarti bahwa diperlukan juga penyuluhan pencegahan HIV dan konsumsi obat-obatan untuk menjaga agar viral load dapat dikontrol. Oleh sebab faktor-faktor ini pula, usaha dalam menyembuhkan TB juga memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak, tidak hanya masyarakat, melainkan juga pemerintah dalam membuat kebijakan, organisasi masyarakat, dan tentunya tenaga medis.

Oleh sebab banyaknya permasalahan TB yang memiliki faktor risiko perilaku hidup yang kurang sehat, maka salah satu metode utama yang perlu lebih digalakkan adalah menciptakan lingkungan sosial dan fisik yang mendukung usaha orang-orang bebas TB. Dengan demikian, munculnya penyakit TB dapat diturunkan dan para penderita TB dapat lebih menerima prioritas dalam perawatan. Beberapa usaha yang dapat dilakukan antara lain adalah:

Lingkungan Sosial:

  1. Tidak mendukung merokok di tempat umum
  2. Membudayakan etika batuk yang benar
  3. Menjaga kebersihan
  4. Makan dengan seimbang untuk mempertahankan imun
  5. Ikuti program vaksin BCG
  6. Mengembangkan pengetahuan mengenai TB dan komorbidnya

Lingkungan fisik:

  1. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar
  2. Membentuk alur ventilasi dalam rumah
  3. Menjaga agar daerah di sekitar rumah tidak lembab
  4. Membuka jendela di saat pagi hari sehingga sinar matahari dapat masuk

Bagi orang yang menderita TBC:

  1. Jangan membuang ludah atau dahak sembarangan
  2. Kurangi interaksi sosial
  3. Paparkan diri dengan sinar matahari secara rutin
  4. Konsumsi obat dengan disiplin

Daftar Pustaka

  1. Tuberkulosis [Internet]. Jakarta: Kemenkes; [cited 2021 Jul 28]. Available from: https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-tuberkulosis-2018.pdf
  2. https://banten.indeksnews.com/wp-content/uploads/2020/09/kasus-TBC-di-Indonesia.jpg

 

Share your thoughts