Liburan_Muhammad Alfatih_Obat Andalan Pemicu Kegaduhan

Elmiron: Obat Andalan Pemicu Kegaduhan

Elmiron, nama dagang dari Pentosan Polisulfat Sodium, merupakan obat sistitis interstisial (bengkak pada kandung kemih). Obat ini digunakan untuk mengurangi rasa ketidaknyamanan akibat nyeri pada saluran kemih yang ditimbulkan dari penyakit kronis tersebut. Sebagai satu-satunya obat oral penyakit sistitis interstisial yang peredarannya telah disetujui oleh FDA (Food and Drug Administration) Amerika Serikat sejak tahun 1996, Elmiron telah menjadi primadona dalam hal pengobatan sistitis interstisial. Namun, dalam perkembangan penggunaannya, berbagai efek samping dapat ditemukan pada pasien yang mengonsumsi obat ini. Salah satu efek samping yang baru-baru ini dibuktikan melalui salah satu studi oleh American Academy of Ophthalmology adalah kerusakan pada lapisan retina. Studi tersebut mengonfirmasi berbagai tuntutan dan keluhan yang selama ini datang silih berganti terkait munculnya gangguan pengelihatan pada pasien-pasien yang mengonsumsi obat ini. Situasi yang semakin intens ini menimbulkan masyarakat menjadi resah akan keberadaan obat tersebut. Preskripsi obat yang awalnya bertujuan untuk mengobati malah berujung pada masalah kesehatan yang lebih besar. Lantas, bagaimana sebaiknya kita menindaklanjuti situasi ini?

 

Kegunaan Elmiron dalam Pengobatan Sistitis Interstisial

Elmiron merupakan salah satu obat andalan yang diproduksi oleh raksasa farmasi dunia, Janssen Pharmaceuticals. Obat ini merupakan substansi yang mampu mengurangi berbagai gejala yang ditimbulkan oleh penyakit sistitis interstisial. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai Elmiron, ada baiknya jika kita mengenal apa itu sistitis interstisial.

Sistitis interstisial merupakan kondisi inflamasi yang terjadi secara kronis pada dinding kandung kemih. Kondisi ini merupakan kasus khusus dari kondisi yang lebih umum terjadi yaitu sistitis. “Sistitis diartikan sebagai inflamasi atau nyeri pada kandung kemih, dan interstisial artinya nyeri tersebut terletak pada dinding kandung kemih tersebut”, ujar Christi Pramudji, MD, seorang dokter spesialis urologi terkemuka lulusan Baylor College of Medicine. Christi juga menjelaskan bahwa hal yang membedakan sistitis interstisial dengan sistitis umumnya adalah pada sistitis umumnya kita bisa menemukan bakteri penyebab infeksi saluran kemih, yang mana infeksi saluran kemih itulah yang menyebabkan terjadinya inflamasi dan nyeri pada kandung kemih, sedangkan pada sistitis interstisial, bakteri tersebut tidak ditemukan. Hal ini menyebabkan ketidakjelasan pada proses pengobatan pasien-pasien yang menderita sistitis interstisial dan jika dibiarkan, pasien akan terus merasa tidak nyaman.

Terapi yang dapat diberikan sebagai bentuk tatalaksana pada pasien sejauh ini berfokus pada pengurangan rasa nyeri yang dialami. Salah satu metode yang dapat dilakukan adalah menggunakan obat yang diadministrasikan secara oral. Satu-satunya obat yang telah disetujui untuk digunakan adalah Elmiron. Tidak ada pilihan lain selain obat ini untuk metode obat oral, yang mana merupakan metode paling sederhana dan mudah dilakukan untuk dilakukan oleh pasien secara mandiri. Sekiranya dua puluh lima tahun sudah berlalu sejak Elmiron pertama kali beredar di dunia pengobatan sistitis interstisial, dan selama itu pula, belum ada yang mampu menggantikan posisinya sebagai obat pereda rasa nyeri akibat sistitis interstisial meskipun obat ini tidak dijual secara generik.

Elmiron bekerja dengan melalui mekanisme molekuler yang masih belum begitu dipahami juga oleh para ilmuwan. Dugaan sementara menyebutkan bahwa obat ini mampu membentuk lapisan pelindung tepat di atas lapisan epitel dinding kandung kemih. Prof. Andrew McLachlan, BPharm(Hons1 Medal), PhD, FPS, FACP, MCPA, MSHPA, Dekan Fakultas Farmasi University of Sydney, menjelaskan bahwa pembentukan lapisan itu merupakan hasil dari proses sekresi yang memindahkan molekul obat tersebut dalam bentuk yang sudah dimetabolisme dari pembuluh darah ke saluran kemih. Pelindung tersebut mampu menghalangi berbagai molekul yang berpotensi merusak dinding kandung kemih dan menyebabkan inflamasi. Publikasi terkait Elmiron pada dunia farmakologi sejauh ini belum begitu banyak dilakukan. Hal inilah yang menyebabkan intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan efektivitas konsumsi obat ini juga belum bisa dilakukan. 

Analisis empiris terkait penggunaan obat menunjukkan bahwa reaksi pasien terhadap konsumsi Elmiron sangatlah variatif, begitupun dengan durasi penggunaannya hingga dapat meredakan rasa nyeri: ada yang memerlukan waktu hingga tiga bulan bahkan ada yang memerlukan waktu hingga enam bulan. Sebagian ahli bahkan sepakat bahwa Elmiron sebenarnya tidak menimbulkan reaksi yang signifikan dalam meredakan nyeri akibat sistitis interstisial. 

 

Gejolak Kasus Gugatan Elmiron

Dalam perjalanan sejarah penggunaan Elmiron di masyarakat, obat ini memang dikenal memiliki banyak efek samping. Mulai dari kerontokan rambut, gangguan saluran pencernaan, hingga gangguan penglihatan. Namun, asosiasi yang dilakukan secara saintifik belum begitu mendapat perhatian hingga pada tahun 2018, Nieraj Jain, MD, seorang dokter spesialis mata terkemuka lulusan Duke University Eye Center, menyadari bahwa terdapat pola distrofi di retina yang khas pada pasien-pasien dengan riwayat menderita sistitis interstisial. Hal ini menginisiasi dilakukannya berbagai studi lain untuk membuktikan berbagai asumsi yang ada, salah satunya terkait asosiasi antara konsumsi Elmiron dengan kejadian kerusakan retina.

“Kerusakan pada retina memang akan sulit dideteksi jika tidak menggunakan teknologi yang tepat, karenanya sangat disarankan bagi para dokter spesialis mata untuk melakukan pemeriksaan multimodal untuk mendapatkan gambaran yang adekuat”, ujar Neiraj. Oleh karena itu, studi dalam skala yang lebih besar akan membutuhkan dana yang besar pula. Terlebih jika ingin menganalisa secara molekuler mekanisme toksisitas yang terjadi. Hal ini merupakan hambatan terbesar dalam perjalanan menuju titik terang berbagai kasus gugatan Elmiron yang diajukan kepada pihak Janssen Pharmaceuticals karena mereka tidak mampu memberikan peringatan yang mumpuni sebelum merilis obat sehingga merugikan banyak pasien.

Terlepas dari tuntutan yang ada dan semakin menjadi-jadi di pertengahan 2021 ini, pihak pengadilan telah memutuskan bahwa sidang terkait gugatan belum akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Berbagai pertimbangan perlu dikumpulkan secara matang untuk dapat memutuskan nasib obat yang sangat terkenal ini. Sementara menunggu momen tersebut tiba, preskripsi atau pemberian resep yang mengandung Elmiron tetap dapat dilakukan mengingat kebermanfaatan obat ini dalam meredakan nyeri akibat sistitis interstisial. Rekomendasi berupa pemeriksaan ke dokter spesialis mata sesegera mungkin jika pasien yang mengonsumsi Elmiron merasakan adanya gangguan penglihatan merupakan jalan keluar sementara dalam situasi ketidakjelasan ini. alfatih

https://ppab.beranisehat.com/?p=8266&preview=true

https://www.instagram.com/lphty/

Share your thoughts