Indonesia 5 besar COVID-19

Liburan_Farah_Indonesia 5 Besar Dunia Penambahan Kasus COVID-19

COVID-19 telah menginfeksi lebih dari 180 juta orang dan menyebabkan lebih dari empat juta kematian secara global sejak diumumkan sebagai pandemi oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Ada harapan besar vaksinasi dapat mengubah dunia menjadi normal seperti sedia kala, melonggarkan segala pembatasan yang telah merenggut kebebasan kehidupan kita selama hampir dua tahun lamanya. Para ilmuwan, di sisi lain, semakin yakin bahwa virus corona tidak akan hilang dalam waktu dekat, bahkan bisa saja tidak akan pernah benar-benar hilang.

Secara spesifik, penambahan kasus COVID-19 di Indonesia kian mengkhawatirkan. Hingga Kamis (24/6/2021), nama Indonesia sudah terukir ke dalam 5 besar negara dengan penambahan kasus konfirmasi positif terbanyak di dunia.  Banyak kegelisahan yang terjadi di sana-sini. Banyak ketakutan yang terekam layaknya menghadapi ancaman kehidupan paling mengerikan abad ini. Hal ini karena status Indonesia 5 besar COVID-19 dunia. Apalagi, penambahan kasus harian di Indonesia saat ini telah jauh melampaui Amerika Serikat dan Inggris.

Indonesia 5 besar COVID-19
Rekor pahit yang menghantui negeri ini.

 

Indonesia sempat memimpin dengan total 20.574 kasus COVID-19. Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Hermawan Saputra menegaskan bahwa sangatlah sulit untuk mampu mengendalikan COVID-19 di Indonesia dengan hanya mengandalkan vaksinasi. Saat ini, jumlah vaksin COVID-19 yang telah tersedia di Indonesia pun terbatas. Cakupan vaksinasi COVID-19 hingga kini juga masih tercatat belum mencapai target.

“Pemerintah harus berani radikal. Opsinya cuma dua, PSBB nasional seperti pada bentuk semula ataupun lockdown regional,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kemenkes RI dr. Siti Nadia Tarmizi. Beliau menilai ledakan kasus COVID-19 terjadi akibat imbas dari mobilitas yang tinggi oleh masyarakat, terutama di saat liburan panjang. “Peningkatan kasus cukup signifikan. Ini karena adanya peningkatan mobilitas sebelum pengetatan saat liburan dan protokol kesehatan yang longgar,” katanya dalam suatu konferensi pers, Kamis (24/6/2021). Bukan hanya penambahan kasus harian yang membuat kita bergeleng kepala, penambahan angka kematian akibat COVID-19 di Indonesia pun sangat mengkhawatirkan.

Kabar baiknya, sebanyak 10.807 pasien COVID-19 telah dinyatakan sembuh. Jumlah pasien sembuh bertambah menjadi 1.880.413 dari 1.869.606 pasien. Sementara itu, pasien meninggal dunia akibat COVID-19 di Indonesia yang mengalami peningkatan yaitu diketahui dengan jumlah kematian yang mencapai 457 orang per harinya. Hal ini juga membuat Indonesia masuk ke dalam lima besar negara dengan kematian COVID-19 tertinggi di dunia.

Untuk kasus konfirmasi positif COVID-19, Indonesia menempati posisi kelima tertinggi di dunia, dengan menyumbang lebih dari dua juta kasus konfirmasi positif. Predikat Indonesia 5 besar COVID-19 dapat diamati melalui data kasus COVID-19 tertinggi dari beberapa negara di seluruh dunia:

  1. Brasilia

          Kasus baru: 72.705 kasus 

          Total kasus: 18.243.483 kasus 

 

  1. India 

          Kasus baru: 51.248 kasus

          Total kasus: 30.133.417 kasus 

 

  1. Kolombia 

          Kasus baru: 32.997 kasus 

          Total kasus: 4.060.013 kasus 

 

  1. Argentina

          Kasus baru: 24.463 kasus 

          Total kasus: 4.350.564 kasus

 

  1. Indonesia

          Kasus baru: 20.574 kasus 

          Total kasus: 2.053.995 kasus

 

  1. Rusia 

          Kasus baru: 20.182 kasus 

          Total kasus: 5.338.695 kasus

 

  1. Inggris 

          Kasus baru: 16.703 kasus 

          Total kasus: 4.684.572 kasus

 

  1. Afrika Selatan 

          Kasus baru: 16.078 kasus

          Total kasus: 4.684.572 kasus

 

  1. Amerika Serikat 

          Kasus baru: 12.128 kasus

          Total kasus: 34.463.722 kasus

 

  1. Iran 

          Kasus baru: 11.734 kasus

          Total kasus: 3.140.129 kasus

 

Indonesia 5 besar COVID-19 kini terus mengalami kenaikan kasus sejak pekan ketiga bulan Juni. Mengutip JHU CSEE COVID-19 Data, rata-rata kasus sepekan (selama tujuh hari) di Indonesia bahkan mencapai 16.827 orang. Masifnya penambahan kasus COVID-19 di Indonesia juga berpotensi menjadikan negeri ini salah satu episentrum COVID-19 dunia layaknya Brasilia dan India. Bahkan menurut epidemiolog Griffith University Dicky Budiman, hal ini benar-benar akan menjadi nyata apabila ledakan kasus COVID-19 tidak dapat ditangani dengan baik dalam beberapa bulan ke depan. Sementara itu, pemerintah Indonesia telah bertekad untuk mempercepat program vaksinasi COVID-19. Pada Juli, pemerintah menargetkan satu juta orang divaksin dalam satu hari. Sementara pada Agustus, targetnya ditingkatkan menjadi dua juta orang per hari.

Ketua Satgas COVID-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Zubairi Djoerban menyatakan bahwa ada sesuatu yang mengkhawatirkan dari penanganan COVID-19 di Indonesia. Pasalnya, dengan tes yang masih tergolong rendah, ditemukan banyak sekali kasus konfirmasi positif COVID-19. Ini menunjukkan tingkat penularan COVID-19 di Indonesia yang masih tergolong sangat tinggi dan masif. “Walaupun testing rendah, Indonesia masih masuk big five. Nomor satu AS, lalu Inggris. Kita pernah di ranking pertama jadi masih amat serius, itu masih berat dan berbahaya,” ujarnya kepada CNBC Indonesia, Senin (26/7/2021). Menurutnya, rasio antara kasus positif terhadap jumlah tes (positivity rate) di atas 10% menunjukkan adanya tingkat risiko yang cukup tinggi. Namun demikian, Indonesia bahkan tidak hanya berada pada tingkat 10%, tetapi positivity rate mencapai 40% per hari. Begitu pula keadaan ini terjadi di ibukota DKI Jakarta yang mencatat positivity rate di atas 25% per harinya. “Saat ini, risiko penularan di masyarakat masih tinggi banget,” tambahnya.

Untuk menindaklanjuti hal ini, IDI menyarankan agar semua perubahan kebijakan, termasuk pelonggaran PPKM dan sebagainya, harus mengacu kepada perkembangan data penularan COVID-19. “Kalau ada sedikit kenaikan, apakah positivity rate atau meninggal, maka kebijakan harus diperketat,” pungkas pihaknya.

Dalam kesempatan yang sama, Zubairi Djoerban juga angkat bicara terkait tingginya kasus kematian di Indonesia akibat COVID-19. Menurut Zubairi, banyak kasus meninggal terjadi pada saat masyarakat melakukan isolasi mandiri (isoman). Pasien COVID-19 idealnya tidak melakukan isoman, melainkan dirawat secara intensif di rumah sakit. “Sebagian dari isoman, harusnya dirawat di RS. Untuk itu, perlu lebih banyak tempat tidur untuk mengawasi dan mengobati. Bisa dengan menambah bed RS darurat,” ujarnya. Menurutnya, jika penambahan tempat tidur RS tidak dapat dilakukan, sebaiknya dilakukan isoman secara terpusat sehingga tetap ada pengawasan aktif. Pada saat isoman terpusat, apabila sakitnya memburuk, dapat segera dilakukan penanganan. “Jika saturasi turun, bisa dibantu dengan oksigen, bisa dirujuk RS, dan lain-lain,” tambahnya lagi. Selain itu, dia juga menyarankan agar semua orang yang menjalani isoman terpusat harus di-rontgen walaupun tanpa gejala karena sebagian orang tanpa gejala memiliki pneumonia. 

Sebagai informasi, dalam beberapa waktu terakhir, Indonesia selalu memimpin kasus kematian akibat COVID-19 di seluruh dunia. Sepekan terakhir ini, rata-rata penambahan kasus kematian akibat COVID-19 berada pada kisaran 1.385 kasus serta tidak pernah lagi berada di bawah 1.000 kasus.

Share your thoughts